“ yah… aku sak
“ Emang kenapa ? “ tanyaku sambil bergetar .
Aku sangat sayang ama gadis itu , hingga rasa kuatir bak godam menyergap dan menghantamku .
“ Katanya aku sok cantik dan sok kaya. “ isaknyapun semakin menjadi .
“ Oohh… tapi kamu gak suka pamer khan ? apa suka kemayu kayak ibumu ? “ tanyaku menyelidik , layaknya Subeno Darmaji yang merasa sebagai buaya dan suka berburu cicak .
“ Nggak yah… aku selalu baik koq ke dia , malah dia yang suka pamer . “
“ Ya…udah biarin aja , toh kamu nggak seperti yang dituduhkan , yang penting berlaku biasa aja , tetep baik dan anggap dia sedang lupa . ” kataku coba menenangkannya .
“ Tapi dia bilang mamanya kenal sama guru BK , trus mo ngaduin aku . “ ujarnya .
Oalaah…Gustii… bocah sekarang dah pinter mencatut pejabat sekolah buat mengancam , pasti gedenya bakal mencatut nama presiden buat kepentingan pribadi dia .
“ Lhah … mamamu juga kenal sama guru – guru yang lain , selama kamu gak salah , jangan pernah takut , karena Tuhan pasti tahu mana yang benar dan yang salah .” kataku mengutip ajaran bapakku .
“ Iya yah… “ suaranya berangsur tenang .
Percakapan selanjutnya pun sudah mulai cair , terkadang kamipun mulai bercanda dan tertawa bersama . Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk mengurangi bebannya , memberikan nasehat alakadarnya dan berharap dia bisa mengatasi masalahnya dengan baik .
Sebenernya aku takut percakapan kami ada yang menyadapnya , terus memutarnya dengan terbuka di Mahkamah Komprensi di Bale desa . Dari simbok – simbok , bapak – bapak , engkong – engkong sampai anak – anak kecil mendengarkan , dan kadang tertawa mendengar kelakar kami berdua .
Kalau hal itu terjadi … Ooemgee… semua warga bakal tahu anakku bicara kayak sama temennya , mau ditaruh dimana mukaku yang ganteng ini ( sak bonbin gembira loka , sing nganggo buntut ) . Soale aku masih punya urat malu , kalau emang dah kedengaran orang sedesa masak aku juga mo ngeles kayak orang – orang itu ? Aku bayangin simbok – simbok yang lagi gendong tenggok yang berpapasan denganku akan tersenyum kecut memandangku dan berkata dalam hatinya ,” Jadi bapak koq gak berwibawa .” Waduhh… Gustii … jangan biarkan orang lain mempermalukanku karena pada dasarnya semua orang punya rasa malu , kecuali orang – orang itu yang demi wibawa mereka masih tidak mengaku .
Nduk… masalahmu itu baru kerikil kecil yang menghalagi jalanmu , belum batu besar , mercon atau bahkan bom yang siap memekakkan telinga dan menghancurkanmu berkeping keping . Tapi ayah bangga padamu nduk , diusiamu yang masih belia , kamu sudah mulai memahami hidup dengan mencari solusi atas masalahmu .
Nduk…Masalah demi masalah akan silih berganti menguji ketabahan serta ketangguhan pribadimu . Godaan demi godaanpun akan semakin banyak menghampirimu . Tinggal ayahmu ini yang akan terteror oleh rasa was – was dan khawatir , layaknya kuatir sama koruptor yang mengerogoti uang Negara mengatasnamakan legalitas , Layaknya kuatir sama teroris yang menyebar bom di mall – mal dan keramaian , sampai ayah takut pergi ke tempat – tempat itu . * padahal emang ngirit …
Ayah hanya bisa berdoa agar ‘ teroris kecilku ‘ selalu tegar dalam menghadapi masalahmu , sebisa mungkin ayah akan bantu , bila perlu ayah kirim detasemen khusus untuk mengawalmu . ( * halahh…lebai … ) Hepi b’dei ya nduuk …
Read More..








